Tampilkan postingan dengan label Psikologi Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Desember 2010

Psikologi Anak : Dampak Ibu Bekerja Bagi Anak

A. PENDAHULUAN

Terdapat sekian banyak alasan mengapa ibu bekerja, mulaid ari memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sampai sebagai suatu bentuk aktualisasi diri. Apapun alasannya, sudah tidak aneh lagi bagi seorang ibu untuk berperan ganda, menjadi ibu di rumah sekaligus bekerja di luar rumah.
Pro dan kontra fenomena ibu bekerja terus berlanjut. Ada pihak yang mengatakan ibu sebaiknya di rumah agar perkembangan anak lebih baik, tapi ada yang bependapat bahwa dengan diam di rumah belum menjamin perkembangan anak menjadi lebih baik. Seiring dengan pro kontra ini banyak bermunculan hasil-hasil penelitian baik yang menentang maupun mendukung ibu bekerja.

B. PEMBAHASAN

1. Dampak Positif

Sebuah penelitian yang dilakukan Elizabeth Harvey, seorang psikolog peneliti di Universitas Massachusetts pada tahun 1999, mengungkapkan bahwa tidak ada dampak merugikan bagi anak-anak yang ibunya bekerja. Sedangkan penelitian yang dilakukan sebuah tim dari Universitas Texas pada tahunh 2005, tidak menemukan adanya masalah perkembangan pada anak-anak yang ibunya bekerja di luar rumah. Penelitian ini mengungkapkan bahwa ibu memang sumber penting dari pengasuhan anak tapi dia tidak harus tinggal di rumah selama 24 jam penuh untuk membangun kedekatan dengan anak.
Adapun beberapa dampak positif yang mungkin terjadi pada anak ketika ibu bekerja :
a. Anak belajar mandiri dalam melakukan aktivitas di rumah tanpa bantuan atau ditemani ibu.
b. Anak belajar mengembangkan kedekatan dengan orang lain.
c. Anak menantikan dan menghargai kebersamaan dengan ibu.
d. Anak belajar tentang nilai peran orang dewasa bagaimana ibu juga bertanggung jawab atas kehidupan keluarga.

2. Dampak Negatif

Suatu penelitian yang dilakukan Bio-Medical Library di Universitas Minnesota pada tahun 2001, menunjukkan bahwa anak-anak dari ibu yang bekerja di luar rumah selama 30 jam atau lebih dalam seminggu mengalami keterlambatan perkembangan kognitif. Adapun sebuah penelitian yang diterbitkan di Boston Globe pada bulan Juli 2002, mengungkapkan bahwa anak-anak yang ibunya bekerja sebelum mereka berusia 9 bulan, mmiliki kemampuan mental dan verbal yang lebih rendah di usia 3 tahun dibanding anak yang ibunya tinggal di rumah dan mengasuh langsung anak-anaknya.
Adapun beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat ibu bekerja bagi anak yaitu :
a. Ibu tidak punya banyak peluang intervensi dalam aktivitas anak karena anak sudah mengembangkan kemandirian atau berpegangan pada apa yang ia dapat dari pengasuh pengganti ibu selama ibu bekerja.
b. Anak mungkin menjadi lebih dekat dengan pengasuh, nenek atau siapapun yang berada di rumah ketika ibu bekerja.
c. Peran ibu berkurang di mata anak karena sedikitnya waktu yang ibu punya untuk dihabiskan bersama anak.
d. Anak mungkin punya keinginan lain akan peran ibunya, seperti ingin ibu di rumah saja selayaknya ibu dari teman sekolahnya.

C. PENUTUP

Berdasarkan penjabaran di atas mengenai berbagai hasil penelitian dan dampak positif serta negatif yang mungkin ditimbulkan akibat ibu bekerja bagi anak, semuanya mungkin terjadi pada setiap keluarga dimana sang ibu bekerja. Agar dampak yang terjadi bisa positif dan dampak negatifnya bisa ditekan seminimal mungkin maka tergantung pada sang ibu sendiri serta dukungan dari keluarga besar seperti suami, kakek-nenek, dan lainnya.

D. DAFTAR PUSTAKA

Majalah Anakku Edisi 10/V/2009. Jakarta.
(BK)

Senin, 29 November 2010

Psikologi Anak : Oedipus Kompleks Sebagai Akibat Perkembangan Masa Kecil Tidak Sempurna

A. PENDAHULUAN

Menurut Kamus Lengkap Psikologi, Oedipus Kompleks adalah hasrat yang ditekan pada anak-anak untuk melakukan hubungan seksual dengan orang tuanya yang berlainan jenis kelamin. Sebenarnya yang menjadi penyebab dari Oedipus Kompleks adalah terjadi pada masa Falik perkembangan anak. Perkembangan yang tidak sempurna pada masa falik dapat memicu terjadinya Oedipus Kompleks.


B. PEMBAHASAN

1. Sejarah Oedipus Kompleks

Oedipus Kompleks berasal dari nama pahlawan Yunani yang bernama Oedipus, dimana Oedipus tanpa disengaja atau tanpa disadari telah membunuh ayahnya, lalu mengawini ibunya sendiri. Pada masa mudanya, Oedipus pernah tertusuk kakinya (Oedipus berarti "kaki yang bengkak") dan ditinggalkan agar mati seorang diri di atas sebuah gunung; akan tetapi, dia kemudian ditolong oleh seorang gembala, dan bisa menyelesaikan nasibnya.
Secara singkat Oedipus Kompleks terdiri atas dorongan seksual terhadap orang tua yang berlainan jenis dan dorongan permusuhan terhadap orang tua yang sama jenis kelaminnya. Anak laki-laki ingin memiliki ibu dan mengusir ayah, dan anak perempuan ingin memiliki ayah dan mengusir ibu. Perasaan ini menyatakan diri dalam khayal anak pada waktu anak itu melakukan masturbasi dan dalam sikap cinta serta melawan orang tua.
Dapat juga dikatan Oedipus Kompleks merupakan perasaan seksual seorang anak laki-laki pada ibunya dan persaingannya dengan ayahnya. Perasaan anak laki-laki ini, dan pertahanan psikologisnya melawan pikiran dan perasaan yang mengancam, sangat penting karena perasaan dan pertahanan psikologis tersebut membentuk pola reaksi dasar yang tetap muncul selama hidup, dengan kata lain membentuk kepribadian.

2. Masa Falik

Masa falik adalah masa perkembangan anak yang terjadi pada usia 3 sampai dengan 5 tahun. Pada masa ini yang menjadi pusat perhatian adalah perkembangan seksual dan rasa agresi serta fungsi alat-alat kelamin. Kenikmatan masturbasi serta khayalan yang menyertai aktivitas oto-erotik sangat penting, namun masturbasi secara terbuka tidak diterima secara sosial. Pada masa ini anak-anak juga memusatkan diri pada perbedaan antara pria dan wanita.
Secara singkat Oedipus Kompleks itu terdiri atas dorongan seksual terhadap orang tua yang berlainan jenis kelaminnya dan dorongan permusuhan terhadap orang tua yang sama jenis kelaminnya. Anak laki-laki ingin memiliki ibu dan mengusir ayah, dan anak perempuan ingin memiliki ayah dan mengusir ibu. Perasaan ini menyatakan diri dalam khayal anak pada waktu anak itu melakukan masturbasi dan dalam sikap cinta serta melawan orang tua.
Tingkah laku anak pada masa ini ditandai oleh bekerjanya hal tersebut di atas, dan walaupun hal ini dimodifikasikan dan ditekan setelah anak berumur kurang lebih lima tahun, namun masih tetap merupakan kekuatan yang vital selama hidupnya.
Oedipus Kompleks pada anak laki-laki dan pada anak perempuan tidak sama. Mula-mula kedua jenis anak itu cinta kepada ibu, karena ibu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan menentang ayah karena ayah dianggap saingan dalam memperebutkan kasih itu. Perasaan yang demikian itu pada anak laki-laki menetap, tetapi pada anak perempuan berubah.

3. Oedipus Kompleks pada Anak Laki-laki

Dorongan incest dengan ibu serta sikap menentang terhadap ayah menyebabkan anak laki-laki konflik dengan orang tuanya, terutama ayah. Ia mengkhayalkan bahwa ayah akan melukainya, dan hal ini sering disertai ancaman ayah yang keras yang menyebabkan munculnya dikastrasi. (kecemasan akan dikebiri). Dikastrasi ini menyebabkan ditekannya keinginan seksual terhadap ibu dan rasa permusuhan terhadap ayah. Hal ini juga menjadi cara anak laki-laki mengindentifikasikan diri terhadap ayah. Dengan mengidentifikasikan diri terhadap ayah, anak laki-laki mendapatkan dua macam manfaat yaitu memperoleh pemuasan dorongan seksualnya terhadap ibu dan rasa erotisnya yang berbahaya terhadap ibu tertutupi oleh sikap menurut dan sayang terhadap ibu.

4. Oedipus Kompleks pada Anak Perempuan

Anak perempuan mengganti obyek cintanya yaitu ibu kepada ayah. Hal ini sebagai pengalaman traumatisnya yaitu anak laki-laki memiliki alat-alat kelamin yang sempurna sedang dia tidak, hal tersebut mirip dengan dikastrasi yaitu anak perempuan beranggapan bahwa ibulah yang bertanggung jawab terhadap keadaan yang demikian itu dan ia mentransfer cintanya kepada ayah, karena ayah memiliki organ yang dia inginkan, atau yang biasa disebut dengan penis envy.


C. PENUTUP

Oedipus Kompleks merupakan perasaan seksual seorang anak laki-laki pada ibunya dan persaingannya dengan ayahnya. Perasaan anak laki-laki ini, dan pertahanan psikologisnya melawan pikiran dan perasaan yang mengancam, sangat penting karena perasaan dan pertahanan psikologis tersebut membentuk pola reaksi dasar yang tetap muncul selama hidup, dengan kata lain membentuk kepribadian. Oedipus Kompleks bisa terjadi pada anak laki-laki dan anak perempuan. Agar anak terhindar dari Oedipus Kompleks, sedari dini orang tua harus memperhatikan pertumbuhan serta perkembangan anak, khususnya pada masa falik.


D. DAFTAR PUSTAKA

Friedman, Howard S., dkk. 2006. Kepribadian. Teori Klasik dan Riset Modern. Edisi Ketiga. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Chaplin, J.P. 2009. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali Pers.
(BK)

Senin, 22 November 2010

Psikologi Anak : Interaksi Sosial Anak

A. PENDAHULUAN

Kemampuan interaksi anak dengan lingkungannya merupakan dimensi kecerdasan sosial psikologis. Pada minggu-minggu pertama kelahirannya, bayi sudah memiliki kemampuan untuk melihat dengan jelas pada jarak 10 inchi (25 cm). Pada usia itu, ia belum mampu mengenali wajah ibunya secara spesifik. Ia baru sampai pada tahap pengenalan garis rambut dan bentuk kepalanya. Mungkin, bayi menyukai wajah manusia karena wajah manusia lebih bersifat spesifik dan memberikan rangsangan pada penglihatannya. Hal tersebut membantunya dalam perkembangan fisik dan sosial bayi.
Oleh karena itu, anak sebaiknya terus dikenalkan dengan lingkungannya yang baru. Belajar beradaptasi merupakan kegiatan penting bagi si anak, apalagi jika kedua orang tuanya berpindah-pindah tempat tinggal. Kebutuhan bayi tentunya berbeda dengan kebutuhan seorang anak usia sekolah. Kebutuhan anak menjelang remaja juga berbeda dengan kebutuhan anak usia sekolah dan seterusnya. Cobalah untuk memahami perkembangan psikososial akan membuat anak merasa cemas, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, dan bisa juga menjadi pemalu. Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi sulit berpisah dengan orang tua dan sulit mengerjakan segala sesuatunya sendiri.
Terdapat hal-hal yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan psikososial anak yakni cara membesarkannya dalam lingkungan keluarga yang sehat. Orang tua harus memiliki pengetahuan mengenai kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak, serta perawatan dan pemeliharaan rumah sebagai tempat tinggal yang rapih, bersih, nyaman dan sehat. Orang tua mampu mencari nafkah dan bisa mengatur keuangan keluarga. Keluarga memiliki kegiatan sehari-hari yang teratur. Hubungan antar anggota keluarga, keluarga dengan tetangga, keluarga dengan masyarakat dalam keadaaan harmonis, bersahabatm gotong royong, saling menghormati dan sebagainya. Pada dasarnya, semua merupakan pendidikan kejiwaan terhadap si kecil.


B. PEMBAHASAN

1. Interaksi Dengan Keluarga

Sejak awal kehidupannya, bayi sudah dimanjakan dengan kasih sayang dari orang tua. Ia merasa nyaman dengan kehadiran orang tuanya. Ketika anak berusia satu tahun atau lebih, ia akan mulai menyadari rasa tidak aman saat berjauhan dengan orang tuanya. Ia akan menjadi gelisah dan takut ditinggalkan. Oleh karena itu, ketika orang tuanya meninggalkannya pergi mungkin ia akan rewel dan menangis. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk protes dari anak terhadap orang tuanya. Tentu saja sikap anak tersebut memiliki tujuan tertentu, misalnya memastikan agar orang tua tidak pergi meninggalkannya sendiri atau agar orang tua cepat kembali untuk menemaninya.
Sebenarnya, sikap itu bukanlah sikap yang manja. Itu dikarenakan anak menyadari adanya suatu perasaan takut bila berpisah dengan orangtuanya. Anak pun akan takut jika orang tuanya meninggalkannya dan ia tinggal sendirian. Hal tersebut akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun jika sikap seperti itu terus dibiasakan oleh orang tua hingga anak tumbuh dewasa, ada kemungkinan anak akan tumbuh menjadi anak yang manja.
Di sisi lain, sikap anak itu bisa digunakan untuk memprediksi perkembangannya. Ketika anak berlaku seperti di atas, bisa diperkirakan bahwa anak sudah mulai mengenal rasa cemas yang membuatnya tidak nyaman.

2. Perkembangan Pikiran Anak

Perkembangan teori pemikiran pada anak memiliki dua tahap yang harus dilalui. Teori pikiran sendiri merupakan teori yang mengaitkan antara tindakan yang dilakukan seseorang disertai akibatnya. Tahapan dalam teori pikiran tersebut adalah :

a. Tahap Pertama

Tahap pertama terjadi pada enam bulan pertama di kehidupan bayi. Pada enam bulan pertama tersebut, anak sudah bisa memahami bahwa seseorang melakukan suatu tindakan dengan disengaja. Dengan demikian, tingkah laku seseorang hanya dilihat dari segi tujuan dan aktivitasnya. Anak akan mengikuti pandangan mata orang tua. Setelah mempelajari kemampuan dasar tersebut, anak akan belajar untuk mengarahkan pandangan orang tua pada tujuan yang diinginkannya.

b. Tahap Kedua

Tahap kedua ini lebih rumit daripada tahap sebelumnya. Dibutuhkan lebih dari dua tahun untuk melakukan proses pada tahap ini. Tahap kedua sering disebut proses perkembangan teori pikiran, yaitu kemampuan anak untuk memahami pemikiran orang lain. Selain mengacu pada tujuan, aktivitas manusia juga mengandung maksud tertentu. Hal tersebut tidak mudah untuk dicerna oleh pola pikir bayi karena memang sangat rumit.

3. Munculnya Rasa Percaya Diri Anak

Ketika anak mencapai usia dua tahun, anak mungkin akan menjadi sangat rewel. Anak mulai menginginkan suatu kebebasan yang lebih daripada sebelumnya. Anak pun mulai bisa mengontrol gerak-gerik motorik ototnya yang semula hanya merupakan gerak refleks. Sebenarnya hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk menjadi lebih percaya diri. Rasa percaya diri anak juga dibangun dengan memperhatikan respons orang tuanya terhadap hal-hal yang baru. Hal tersebut disebut juga dengan social refenrencing.

4. Kebutuhan Akan Perhatian dan Empati

Ketika anak pura-pura sakit, orang tua pasti akan terkejut. Hal tersebut merupakan suatu perilaku tidak jujur yang tentunya tidak disukai. Tentu saja, siapapun pasti marah jika tahu sudah dibohongi. Namun, tujuan anak berperilaku demikian sebenarnya bukanlah untuk benar-benar berbohong, melainkan hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian dari orang tua. Hal itu disebabkan anak yang baru menginjak usia dua tahun belum dapat memahami konsep berbohong. Konsep itu akan diketahuinya nanti ketika anak telah menginjak usia tiga hingga empat tahun.


C. PENUTUP

Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain, interaksi dengan keluarga, perkembangan pikiran anak, munculnya rasa percaya diri anak, dan kebutuhan akan perhatian dan empati. Kesemunya itu akan membentuk pola interaksi sosial anak dengan orang lain. Maka sebagai orang tua, harus senantiasa memperhatikan hal-hal tersebut agar anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya secara baik.


D. DAFTAR PUSTAKA

Indarti, MT. A To Z The Golden Age. Merawat, Membesarkan dan Mencerdaskan Bayi Anda Sejak Dalam Masa Kandungan Hingga Usia 3 Tahun. 2007. Yogyakarta : ANDI.
(BK)

Psikologi Anak : Perkembangan Kecerdasan Anak

A. PENDAHULUAN

Pertumbuhan bayi pada tahun-tahun pertama berlangsung sangat pesat. Pada masa ini , perlu diberikan stimulasi-stimulasi yang merangsang kemampuan si anak. Rangsangan tersebut diharapkan bisa mendorong kemampuan bahasa, keterampilan, sosial, ataupun rasa ingin tahu anak. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi kecerdasan anak.
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan seorang anak, misalnya saja lingkungan, respons yang diberikan oleh orangtua, bahkan proses kelahiran yang juga bisa berdampak pada pertumbuhan anak sendiri. Dengan begitu, sekalipun dua orang bayi kembar identik, tetap saja ia memiliki laju pertumbuhan yang berbeda ketika sudah berada di luar rahim. Oleh sebab itu, tidak mungkin memprediksi secara tepat perilaku bayi dalam setiap tahap kehidupannya. Hal yang terjadi adalah kecenderungan secara umum.
Sementara itu kecerdasan merupakan suatu hal yang kompleks. Di dalamnya terjadi proses melihat, mendengar, membandingkan, menyamakan, mengelompokkan, menggabungkan, menyimpan, mempresentasikan, atau mengekspresikan melalui berbagai cara, baik verbal maupun non verbal. Adapun dimensi kecerdasan yang akan dibahas pada tulisan ini adalah dimensi kecerdasan motorik, kognitif dan emosi.


B. PEMBAHASAN

1. Definisi Stimulasi

Stimulasi adalah rangsangan-rangsangan atau stimulus yang diberikan kepada anak oleh lingkungan sekitarnya, terutama orangtua agar anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Stimulasi tersebut diharapkan bisa memperbaiki perkembangan motorik agar anak dapat mengikuti pendidikan berikutnya. Waktu baku untuk stimulasi perlu ditetapkan agar tumbuh kembang anak bisa sesuai dengan yang diharapkan.

2. Dimensi Kecerdasan Motorik

Perkembangan motorik terbagi menjadi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau 95% atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Sebagai contoh, kemampuan duduk, menendang, berlari, naik turun tangga, dan sebagainya. Sementara itu, motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Sebagai contoh, kemampuan menyusun balok, menggunting, memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menulis dan sebagainya. Manakah yang lebih penting?
Keduanya diperlukan agar anak bisa berkembang secara optimal. Bedanya, perkembangan motorik kasar sangat tergantung pada kematangan anak. Sementara itu, motorik halus bisa dilatih. Anak-anak yang perkembangan motorik halusnya kurang biasanya disebabkan oleh kurangnya stimulasi dari lingkungan. Latihan menulis, atau meremas-remas lilim, misalnya, bisa dilakukan untuk mengembangkan motorik halus. Intinya, aspek motorik berkaitan dengan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otak, otot dan spinal cord.

3. Dimensi Kecerdasan Kognitif

Perkembangan kognitif adalah perkembangan proses berfikir seorang anak. Indikasi dari adanya perkembangan proses berfikir adalah kemampuan menerima, mengolah, dan memahami informasi yang diterima. Misalnya respons anak jika diajak bermain ci-luk-ba, dipanggil, dicubit, dicium sayang, dan sebagainya. Kecepatan anak dalam merespons rangsangan tersebut menunjukkan intelegensinya.
Aspek intelegensi nantinya akan berkaitan dengan kamampuan memecahkan masalah serta kemampuan berpikir logis. Intinya adalah kemampuan anak dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Kemampuan itu berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak anak mulai memahami kata.
Ketika anak sudah mulai memberikan respons dan memahami kata-kata, ia akan lebih cepat memahami informasi-informasi sederhana. Sebagai contoh, ia akan mengenal nama-nama benda bersuku kata dua, seperti meja, bola, baju, bunga dan mobil. Kemudian ia akan mengenal kata-kata bersuku kata lebih dari dari dua seperti celana, sepeda, lemari, jendela, dan sebagainya. Anda juga bisa mengenalkan konsep-konsep dasar, seperti warna, angka, dan huruf. Namun, jika anak belum paham, bukan berarti dia kurang pintar, melainkan tuntutan usianya yang belum mampu mencapai maksudnya. Kendala dalam proses berfikir bisa dilihat dari seberapa cepat anak menangkap perintah yang diberikan, atau seberapa sulit anak mengungkapkan pikiran. Perkembangan bicara, bahasa, dan kecerdasan merupakan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, dan pendapat melalui pengucapan kata-kata, kemampuan untuk mengerti dan memahami perkataan orang lain serta kemampuan berfikir, misalnya mengoceh, menangis, dan sebagainya.

4. Dimensi Kecerdasan Emosi

Perkembangan kecerdasan emosi sangat penting untuk dipantau. Orang tua yang memberikan kehangatan kepada anak bisa dilihat dari si anak yang tampak merasa bahagia, murah senyum, ceria, suka bermain dan bergaul dengan kawan-kawan seusianya, tidak mudah marah, mudah diarahkan, dan sebagainya. Sebaliknya, anak yang kurang kehangatan akan cepat marah, wajahnya kaku dan suntuk, susah tersenyum, dan seringkali tersisih dari teman-temannya.
Oleh karena itu, sikap dan emosi anak harus dipupuk sejak dini. Berikanlah kasih sayang agar anak merasa aman dan nyaman. Dengan demikian, apa yang ia rasakan akan diberikan kembali ke lingkungannya. Jika anak dididik dengan kasih sayang, ia akan belajar mencintai. Jika anak dibesarkan dengan pujian dan penghargaan, ia akan belajar mengenal harga diri. Jika anak dibesarkan dengan cacian dan makian, ia akan belajar membenci.


C. PENUTUP

Perkembangan kecerdasan anak sangatlah penting. Karena hal tersebut yang dapat membentuk sikap dan kepribadian anak ketika dewasa kelak. Perkembangan kecerdasan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu kecerdasan motorik, kecerdasan kognitif dan kecerdasan emosi. Ketiga hal tersebut semuanya penting dan memiliki peran masing-masing. Maka sebagai orang tua harus senantiasa memperhatikan ketiga hal tersebut dan memberikan stimulus yang tepat guna memaksimalkan kecerdasan anak.


D. DAFTAR PUSTAKA

Indarti, MT. A To Z THE GOLDEN AGE. Merawat, Membesarkan, dan Mencerdaskan Bayi Anda Sejak Dalam Masa Kandungan Hingga Usia 3 Tahun. 2007. Yogyakarta : ANDI.
(BK)

Kamis, 03 Juni 2010

Apgar Scale

Apgar Scale merupakan suatu pengukuran yang dilakukan terhadap bayi yang baru lahir untuk mengetahui kondisi tingkat kesehatan bayi tersebut. Apgar Scale dikembangkan oleh dr. Virginia Apgar meliputi 5 bagian yaitu :
  • penampilan (warna tubuh). nilai 0 = biru, pucat. nilai 1 = pink, agak kebiruan. nilai 2 = seluruhnya berwarna pink.
  • detak jantung. nilai 0 = tidak ada denyut nadi. nilai 1 = denyut nadi lemah (di bawah 100). nilai 2 = denyut nadi cepat (di atas 100).
  • ekspresi muka (iritabilitas refleks). nilai 0 = tidak ada respon. nilai 1 = menyeringai. nilai 2 = batuk, bersin, atau menangis.
  • aktivitas (gerak otot). nilai 0 = lemas (hampir tidak ada). nilai 1 = lemah, tidak aktif. nilai 2 = kuat, aktif.
  • pernafasan. nilai 0 = tidak bernafas. nilai 1 = tidak teratur, lambat. nilai 2 = baik, menangis.
Setiap bagian terdiri dari 3 penilaian yaitu o, 1 dan 2 sehingga total maksimal angka yang dapat diperoleh oleh setiap bayi adalah 10. Umumnya bayi yang sehat mempunyai nilai 7 sampai dengan 10. Jika bayi mendapat nilai di bawah 7 berarti bahwa bayi tersebut membutuhkan pertolongan pernafasan. Sedangkan jika nilai yang didapatkan di bawah 4 berarti bayi tersebut membutuhkan segera perawatan untuk menyokong kehidupannya. Jadi para orang tua agar selalu menanyakan nilai Apgar Scale pada dokter atau bidan yang membantu proses kelahiran guna mengetahui tingkat kesehatan anak. (BK)

Rabu, 02 Juni 2010

Mengatasi Kemarahan Karena Kenakalan Anak

Tahukan orang tua bahwa kemarahan terhadap anak merupakan suatu bentuk kekerasan terhadap anak, apapun alasannya. Menurut Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psi., Fakultas Psikologi UI mengatakan bahwa hukuman kekerasan terhadap anak sangatlah tidak efektif dan tidak boleh dilakukan. Pun, tidak ada satu kesempatan atau batas tertentu yang membolehkan orang tua memberi hukuman fisik kepada anak. Karena jika hal tersebut terus dilakukan, efeknya bisa sampai jangka panjang, bahkan dikemudian hari si anak dapat saja berperilaku sama seperti orang tua.

Efek Terhadap Anak :
  • Anak menurut bukan karena paham tetapi karena rasa takut dan terpaksa, sekedar menghindari hukuman belaka. Rasa takut berbuat salah akan menguasai dirinya sehingga mengurangi kemungkinan melakukan proses belajar secara maksimal.
  • Anak merasa bahwa kekerasan itu sesuatu yang tak terhindarkan. Akibatnya ia jadi kebal, lalu membiarkan diri dihukum daripada melakukan tugas dengan terpaksa.
  • Membuatnya berperilaku agresif. Dalam jangka pendek, anak marah atau sakit hati. Jangka panjangnya, dendam sampai bertahun-tahun. Anak pun mencontoh tindakan kekerasan tersebut.
  • Bisa meninggalkan efek fisik jangka panjang, misalnya memar, dan jangka panjang, misalnya cacat.
  • Kekerasan ini bisa saja dianggap anak sebagai lambang kebencian orang tua kepadanya. Ke depan, anak akan memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri sehingga tak dapat memisahkan perilaku dan perasaan. Anak menganggap dirinya bukan anak yang baik, sehingga berperilaku buruk.
Cara mengatasi kemarahan :
  • Ingat bahwa anak bukan tempat pelampiasan kemarahan atau kejengkelan orang tua.
  • Ingat juga bahwa kemarahan orang tua yang salah tempat pada anak akan berakibat fatal dalam dirinya, baik luka fisik maupun psikologis.
  • Dalam kondisi normal ingatkan orang dewasa lainnya yang berada di sekitar kita, agar menjauhkan anak dari sasaran kemarahan.
  • Jika orang tua memiliki masalah rumah tangga, selesaikanlah secara baik.
  • Camkan di hati dan piiran bahwa urusan rumah tangga, tidak ada hubungannya dengan anak.
  • Kendalikan emosi secara waras.
  • Tarik nafas dalam-dalam kemudian alihkan kejengkelan dengan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.
  • Melarikan diri ke tempat yang aman seperti tempat ibadah. (BK)

Selasa, 01 Juni 2010

Imunisasi

Setiap ibu yang melahirkan akan segera berkenalan dengan imunisasi. Imunisasi merupakan suatu cara untuk memberi kekebalan (imun) atau perlindungan terhadap bayi dan anak. Imunisasi biasanya dilakukan dengan melakukan vaksinasi, yaitu pemberian vaksin atau bibit penyakit yang telah dilemahkan ke dalam tubuh bayi sehingga dia bisa kebal terhadap penyakit tersebut. Imunisasi ini harus rutin dilakukan sesuai dengan umur dan jadwal imunisasinya. Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi dan mencegah terhadap penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak.

Beberapa penyakit menular berbahaya yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah difteri, pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari), tetanus, tuberkolosis (TBC), campak, polio, hepatitis, gondongan, campak Jerman (Rubella), tifes paratifes, dan kolera. Imunisasi yang dilakukan ada yang cukup sekali saja tapi ada juga yang harus diulang selama beberapa kali, bergantung jenis vaksinasinya. Biasanya, bayi atau anak yang telah divaksinasi akan mengalami demam sebagai reaksi tubuh terhadap vaksin yang diberikan.

Yang harus diperhatikan, sebelum melakukan imunisasi, konsultasikan dulu kondisi kesehatan si kecil, apalagi kalau bayi sedang sakit, terutama bila disertai panas, menderita kejang-kejang sebelumnya, atau menderita penyakit sistem saraf. Berikut adalah jenis vaksin yang wajib dilakukan terhadap bayi yaitu Hepatitis B (mencegah hepatitis B), BCG (mencegah tuberkolosis -TBC), Polio (mencegah polio), DPT (mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari), dan tetanus) dan campak (mencegah campak). (BK)

sumber : Agenda Perkembangan Bayi, Jalur Mas Media.

Gumoh ...

Apa itu Gumoh ???

Gumoh merupakan cairan putih seperti susu yang keluar dari mulut bayi dan biasa dialami oleh bayi sampai berusia 12 bulan. Gumoh tidak sama dengan muntah. Gumoh terjadi karena adanya udara di dalam lambung dan ikut terdorong ke luar saat makanan masuk ke dalam lambungnya. Gejala yang terjadi yaitu keluar cairan putih dari mulut bayi, kadang-kadang diikuti dengan sendawa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mengatasi gumoh yaitu :
  • Jika bayi minum susu formula, berikan susu yang lebih kental.
  • Lakukan proses menyusui dengan posisi terlentang membentuk sudut 45 derajat antara badan, pinggang, dan tempat tidur bayi untuk mengurangi aliran balik susu dari lambung ke kerongkongan.
  • Buat bayi untuk bersendawa jika selesai makan atau minum.
  • Jangan langsung mengangkat bayi saat ia sedang gumoh karena dikhawatirkan cairan gumoh akan kembali masuk ke dalam paru-paru.
  • Beri minum bayi sedikit demi sedikit tapi sering untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
  • Jika cairan gumoh yang keluar lebih banyak daripada makanan yang masuk, sebaiknya segera hubungi dokter. (BK)
sumber : Agenda Perkembangan Bayi, Jalur Mas Media.

Tips Menyusui Bayi

Sebelum mulai menyusui, ada beberapa hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan agar lebih berkonsentrasi dan lebih nyaman saat menyusui :
  1. Pilihlah alas duduk yang nyaman karena bisa saja menyusui dilakukan dalamw aktu yang lama sehingga bisa membuat pegal.
  2. Bersihkan payudara dan puting dengan cara mengelapnya dengan kain yang sudah dibahasi oleh air hangat sambil melakukan gerakan memutar pada payudara. Selain untuk membuat puting susu menjadi lembrk dan bersih, gerakan memutar ini bisa memperlancar keluarnya ASI dari payudara.
  3. Sediakan kain atau sapu tangan yang bersih untuk mengelap sisa ASI yang belepotan di sekitar mulut bayi atau payudara.
  4. Jika mengeluarkan ASI dalam jumlah yang cukup banyak sedangkan bayi belum waktunya untuk menyusu, tampung ASI ini ke dalam botol. Jika bayi sudah siap menyusu, berikan susu dalam botol ini terlebih dahulu.
  5. Lakukan proses menyusui ini di tempat yang tertutup untuk menjaga privasi. Jika sedang berpergian, dapat memberikan ASI yang sebelumnya sudah ditampung ke dalam botol susu.
  6. Agar tidak terganggu, usahakan untuk tidak sendirian saat menyusui jadi bila ada tamu atau dering telepon, tidak perlu terburu-buru untuk menjawabnya.
  7. Sediakan air minum dan taruh disekitar ibu menyusui karena biasanya ibu yang sedang menyusui akan merasa kehausan.
  8. Pijatlah payudara secara rutin dan hati-hati memperlancar peredaran ASI. (BK)
sumber : Agenda Perkembangan Bayi, Jalur Mas Media.

Merawat Tali Pusat Bayi Yang Baru Lahir

Tali pusat adalah penghubung antara ibu dan janin saat masih berada di dalam kandungan untuk menyalurkan zat-zat makanan dan juga oksigen yang juga sangat diperlukan oleh janin. Setelah bayi lahir, tali pusat ini tidak diperlukan lagi. Penjepit plasma dari tali pusat bayi biasanya akan diangkat 24 jam setelah kelahiran. Tali pusatnya sendiri akan mengering dan terputus dalam waktu 1 sampai dengan 3 minggu.

Meskipun pada akhirnya akan putus, tali pusat tetap harus dirawat agar tidak terinfeksi dan juga agar proses pengeringannya bisa lebih cepat. Merawat tali pusat memang bisa membuat kita agak takut dan bingung melakukannya, apalagi jika ini adalah bayi pertama. Tak perlu khawatir, asalkan kita berhati-hati, kita pasti bisa melakukannya. Yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
  • Bersihkan daerah sekitar tali pusat dengan kapas yang telah dibatasi obat antiseptik atau alkohol.
  • Bersihkan pula bagian dasar tali pusatnya.
  • Lakukan minimal tiga kali sehari setiap ganti popok.
  • Semakin cepat mengering maka tali pusat itu akan semakin mudah putus.
Jika tali pusat sudah putus, tetap harus dilakukan perawatan selama beberapa hari agar kesehatannya tetap terjaga. Jangan takut jika tali pusat itu mengeluarkan darah karena itu merupakan hal yang wajar. Yang perlu diwaspadai adalah ketika tali pusat itu mengeluarkan nanah atau bau yang tidak sedap, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya. (BK)

sumber : Agenda Perkembangan Bayi, Jalur Mas Media

Senin, 31 Mei 2010

Makanan Pendamping ASI (MPASI)

Selain ASI, bayi berusia 6 bulan ke atas memerlukan makanan tambahan sebagai pendamping ASI. Pemberian makanan tambahan ini harus dilakukan secara bertahap, baik porsi, jenis, maupun tekstur makanannya, karena organ pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan sehingga makanannya pun harus disesuaikan. Dari segi porsi, berikanlah secara bertahap, misalnya dimulai dengan satu sendok lalu tambahkan secara bertahap sesuai dengan porsi dan usianya.

Untuk jenisnya, sebaiknya dikenalkan satu jenis makanan dulu kepada bayi, misalnya pepaya atau pisang. Ini bertujuan untuk mengetahui reaksinya terhadap makanan tersebut, apakah ia menyukainya atau tidak. Bayi biasanya lebih menyukai makanan yang manis-manis dan kalau tidak suka, ia akan memuntahkannya. Untuk mengatasinya, bisa memberikan makanan tersebut berkali-kali sebagai perkenalan. Tapi ingat, jangan dipaksa karena dikhawatirkan bayi malah akan muntah. Ketrampilan menelan pada bayi tergantung pada pemberian rangsang yang tepat di ujung saraf perasanya. Oleh karena itu, berikanlah makanan yang manis seperti sari buah-buahan pada ujung lidahnya.

Dari segi tekstur, pada awal pemberian makanan tambahan pada bayi, berikanlah makanan bertekstur cair dan lembut karena bayi belum bisa mencerna dengan baik. Jika bayi sudah bisa menggerakkan lidah dan mulai menguyahnya, kita sudah bisa memberinya makanan semipadat. Makanan padat pertamanya bisa diberikan jika ia sudah memiliki gigi.
Pada usia 6 bulan, bayi bisa diberi bubur susu karena teksturnya yang lembut, mudah dicerna, dan diserap oleh usus. Kita juga bisa menambahkan tepung seperi tepung beras atau maizena untuk menambah nilai gizinya, susu sebagai sumber protein sedangkan tepung sebagai sumber karbohidrat. Pada usia 6-9 bulan, sebaiknya berikan makanan dengan tekstur cair dan lembut seperti sari buah, bubur susu, atau bubur sayuran saring (halus). Pada usia 10-12 bulan, bayi sudah bisa diberi makanan kental dan padat tapi tetap lunak seperti nasi tim.
Semoga bermanfaat ... (BK)

sumber : Agenda Perkembangan Bayi, Jalur Mas Media

Minggu, 09 Mei 2010

Tips Kesehatan Untuk Bayi Anda Saat Darurat ...

Bila bayi diare ...
  • ASI atau susu buatan tetap diberikan dengan pengenceran.
  • Beri larutan oralit.
  • Bila diare terus, segera bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat.
Bila anak panas ...
  • Kompres dengan air hangat dan bersih.
  • Beri obat penurun panas yang diberikan dokter.
  • Berikan pakaian yang menyerap keringat.
  • Bila panas tidak turun, segera bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat.
Bila anak kejang ...
  • Jangan panik.
  • Letakkan sendok yang telah dibalut kasa ke dalam mulutnya, bila anak sudah bergigi.
  • Buka semua kancing baju dan celana.
  • Jangan berikan makan atau minum saat anak anda sedang kejang.
  • Masukkan obat kejang sesuai petunjuk dokter, bila tersedia.
Bila anak muntah ...
  • Jangan panik.
  • Bersihkan mulut dan hidung anak.
  • Jangan berikan makan.
  • Beri air putih dan teh manis.
  • Bila terlalu banyak muntah segera bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat.
Ruam popok ...
  • Ganti segera popok bayi yang basah.
  • Bersihkan bagian bawah bayi menggunakan sabun dan air hangat.
  • Gunakan selalu popok kain.
  • Jika terpaksa memakai pampers ganti setiap kali basah.
  • Berikan krim anti ruam popok di sekitar daerah iritasi, agar bayi anda tidak rewel. (BK)

Ciri Alat Permainan Untuk Batita

Usia 0 sampai dengan 12 bulan
Tujuan :
  • Melatih refleks-refleks (untuk anak berumur 1 bulan) misalnya menghisap dan menggenggam.
  • Melatih kerjasama mata dan tangan.
  • Melatih kerjasama mata dan telinga.
  • Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
  • Melatih mengenal sumber asal suara
  • Melatih kepekaan perabaan.
  • Melatih ketrampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :
  • Benda-benda yang aman untuk dimasukkan ke mulut atau dipegang.
  • Alat permainan yang berupa gambar/bentuk muka.
  • Alat permainan yang lunak berupa boneka orang atau binatang.
  • Alat permainan yang dapat digoyangkan dan kemudian keluar suara.
  • Alat permainan berupa selimut dan boneka.
Usia 13 sampai dengan 24 bulan
Tujuan :
  • Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.
  • Memperkenalkan sumber suara.
  • Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
  • Melatih imajinasinya.
  • Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari.
Alat permainan yang dianjurkan :
  • Genderang, bola dengan giring-giring di dalamnya.
  • Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
  • Alat permainan yang terdiri dari : alat rumah tangga (misalnya cangkir yang tidak pecah, sendok, botol plastik, ember), balok-balok besar yang ringan, kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, crayon/pensil berwarna.
Usia 25 sampai dengan 36 bulan
Tujuan :
  • Menyalurkan emosi dan perasaan yang terhambat.
  • Mengembangkan ketrampilan bahasa.
  • Melatih motorik halus dan kasar.
  • Mengembangkan kecerdasan (memasang, menghitung, mengenal dan membedakan warna)
  • Melatih kerjasama mata dan tangan.
  • Melatih daya imajinasi.
  • Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
  • Lilin yang dapat dibentuk.
  • Alat-alat untuk menggambar.
  • Manik-manik ukuran besar.
  • Berbagai benda yang mempunyai permukaan, yang mempunyai kualitas dan warna yang berbeda.
  • Bola ukuran tertentu.
  • Permainan untuk membedakan permukaan dan warna benda. (BK)

Sabtu, 08 Mei 2010

Perkembangan Psiko-Motor Anak

Perkembangan anak sangat penting sebagai dasar untuk perkembangan selanjutnya yakni pada masa prasekolah, sekolah, akil baliq dan remaja. Untuk perkembangan yang baik dibutuhkan kesehatan dan gizi yang baik sejak ibu hami, bayi dan anak prasekolah serta dibutuhkan juga stimulasi atau rangsangan yang cukup baik secara kualitas maupun kuantitas. Keluarga mempunyai peran yang penting dalam pembinaan fisik, mental dan sosial anak balita. Berikut akan dibahas secara singkat perkembangan psiko-motor anak yang melibatkan gerakan-gerakan kasar dan halus, emosi, sosial, perilaku dan bicara sejak lahir sampai dengan usia 3 tahun.

Dari lahir sampai dengan 3 bulan :
  • Belajar mengangkat kepala.
  • Belajar mengikuti obyek dengan matanya.
  • Melihat ke muka seseorang dan tersenyum.
  • Bereaksi terhadap suara/bunyi.
  • Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak.
  • Menahan barang yang dipegangnya.
  • Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
Usia 3 sampai dengan 6 bulan :
  • Mengangkat kepala 90 derajat dan mengangkat dada dengan bertopang tangan.
  • Mulai belajar meraih benda-benda yang ada dalam jangkauannya atau di luar jangkauannya.
  • Menaruh benda-benda di mulutnya.
  • Berusaha memperluas lapangan pandangan.
  • Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.
  • Mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang.
Usia 6 sampai dengan 9 bulan :
  • Dapat duduk tanpa dibantu.
  • Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.
  • Dapat merangkak meraih benda atau mendekati seseorang.
  • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain.
  • Memegang benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
  • Bergembira dengan melempar benda-benda.
  • Mengeluarkan kata-kata yang tanpa arti.
  • Mengenal muka anggota-anggota keluarga dan takut kepada orang asing/lain.
  • Mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan dan sembunyi-sembunyian.
Usia 9 sampai dengan 12 bulan :
  • Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu.
  • Dapat berjalan dengan dituntun.
  • Menirukan suara,
  • Mengulang bunyi yang didengarnya.
  • Belajar mengatakan satu atau dua kata.
  • Mengerti perintah atau larangan sederhana.
  • Memperlihatkan minat yang besar dalam mengeksplorasi sekitarnya, ingin melihat semuanya, ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-benda ke mulutnya.
  • Berpartisipasi dalam permainan.
Usia 12 sampai dengan 18 bulan :
  • Berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah.
  • Menyusun 2 atau 3 balok.
  • Dapat mengatakan 5-10 kata.
  • Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing.
Usia 18 sampai dengan 24 bulan :
  • Naik dan turun tangga.
  • Menyusun 6 kotak.
  • Menunjuk mata dan hidungnya.
  • Menyusun dua kata.
  • Belajar makan sendiri.
  • Menggambar garis di kertas.
  • Mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil.
  • Menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang yang lebih besar.
  • Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain-main dengan mereka.
Usia 2 sampai dengan 3 tahun :
  • Belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki.
  • Mmebuat jembatan dengan 3 kotak.
  • Mampu menyusun kalimat.
  • Mempergunakan kata-kata saya, bertanya. Mengerti kata-kata yang ditunjuk kepadanya.
  • Menggambar lingkaran.
  • Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya. (BK)

ASI

ASI atau air susu ibu merupakan makanan pertama dan yang paling utama untuk seorang bayi. ASI tentu lebih praktis karena tidak memerlukan tempat penyimpanan khusus dan bisa diberikan kapanpun bayi mau. Selain itu, ASI juga steril dan tidak mudah terkontaminasi.

Manfaat menyusui bagi ibu :
  1. Menghemat biaya karena ASI merupakan makanan bayi yang ekonomis dan selalu siap diberikan.
  2. Mengurangi resiko kanker rahim.
  3. Mengurangi resiko kanker payudara.
  4. Mudah memberinya karena ASI bersih, segar dan dapat langsung diberikan melalui payudara ibu.
  5. Mencegah anemia.
  6. Meningkatkan dan mempererat ikatan batin dan jalinan kasih sayang ibu dan anak.
Manfaat ASI bagi bayi :
  1. Mudah dicerna.
  2. Dengan suhu yang tepat.
  3. Makanan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan dan mempunyai komposisi yang sempurna.
  4. Memberi perlindungan terhadap alergi dan infeksii karena ASI mengandung antibodi yang dapat mencegah penyakit pada bayi.
  5. Memberi perlindungan terhadap infeksi.
  6. Memberi perlindungan dan perkembangan yang baik.
Adapun berbagai macam zat gizi yang terkandung di dalam ASI, di antaranya adalah sebagai berikut :
  1. Kolostrum, mengandung protein, vitamin A, karbohidrat, dan lemak. Kolostrum juga mengandung imunoglobulin A sehingga berfungsi juga sebagai zat kekebalan alami. Kolostrum ini terkandung dalam tetesan ASI yang paling awal sehingga harus memberikannya kepada bayi secara langsung dan jangan dibuang.
  2. Sekretori IgA, merupakan zat yang dapat menghancurkan bakteri dan berbagai virus merugikan di dalam sistem pencernaan.
  3. Laktoferin, zat ini merupakan sejenis protein yang dapat mengikat zat besi pada sistem pencernaan.
  4. Lisosim, merupakan enzim yang dapat melindungi bayi dan bakteri dan virus yang berbahaya.
  5. Brochus Asociated Lympocyte Tissue (BALT) dan Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) yaitu zat antibodi untuk saluran pernafasan.
  6. Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT), yaitu antibodi pada jaringan payudara ibu.
  7. Whey dan Kasein, kedua zat ini sangat berguna pada proses penyerapan protein di dalam tubuh.
  8. Taurin, merupakan turunan asam amino yang berfungsi sebagai neurotransmitter atau penghubung antar saraf yang dapat membantu perkembangan otak bayi.
  9. Asam Arakidonat (Arachidonic Acid/AA) dan Asam Dokosaheksaenoat (Docosahexaenoic Acid/DHA), merupakan asam lemak tak jenuh yang membantu mengoptimalkan pembentukan sel-sel otak. (BK)
sumber : Agenda Perkembangan Bayi, Jalur Mas Media

Gerakan Nasional Pemantauan Tumbuh Kembang Anak

Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden Republik Indonesia pada tanggal 24 Juli 2005 mencanangkan Gerakan Nasional Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dengan semboyan "Mari kita bersama-sama memantau tumbuh kembang anak mulai sekarang untuk kehidupan masa depan yang lebih baik". Gerakan ini berisi :

T : imbang bayi dan balita setiap bulan di Posyandu.
U : mur 0-6 bulan berikan ASI.
M : ulai umur 6 bulan berikan makanan pendamping ASI (MPASI).
B : eri vitamin A setiap 6 bulan, makanan gizi seimbang dan gunakan garam beryodium.
U : upayakan bayi mendapat imunisasi lengkap sebelum umur 12 bulan.
H : entikan penyalahgunaan dan kejahatan narkoba, hindari rokok, cegah penularan penyakit AIDS.
K : ehamilan yang sehat dan diinginkan menjadikan ibu melahirkan anak sehat dengan selamat.
E : ratkan kasih sayang keluarga, untuk menjaga kestabilan emosi dan jauhkan dari kekerasan terhadap anak dan perempuan.
M : antapkan kehidupan beragama dan budi pekerti luhur pada anak sejak dalam kandungan.
B : eri kesempatan belajar dan bermain pada anak sejak usia dini sesuai tumbuh kembangnya.
A : wasi dan pelihara kesehatan anak, jika anak sakit segera berobat ke petugas kesehatan.
N : orma keluarga kecil, bahagia dan sejahtera mendukung generasi yang cerdas dan tangguh.
G : aya hidup bersih dan lingkungan sehat merupakan modal dasar anak dan keluarga sehat.

Gerakan ini mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Diharapkan jika sejak dini, anak telah mendapat perawatan dan perhatian dalam tumbuh kembangnya, akan melahirkan generasi yang berkualitas yang dapat membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik. (BK)

A Baby Born ...

Sehubungan dengan hadirnya seorang bayi mungil dalam kehidupanku saat ini, maka beberapa tulisan kedepan akan membahas segala sesuatu tentang bayi …

Makhluk mungil dengan wajah imut, senyum yang menggugah hati serta tangisan yang menakjubkan sungguh membuat kita sangat mengagumi anugerah yang Maha Kuasa. Kehadiran bayi kecil nan cantik di keluarga seakan menyiram segala duka nestapa. Betapa pun berat dan meletihkan upaya merawat mereka, namun itu tak terasa, tiada sebanding dengan kebahagiaan yang terpendar dari kehadiran bayi-bayi mungil nan ajaib ini. (BK)