Senin, 22 November 2010

Psikologi Anak : Interaksi Sosial Anak

A. PENDAHULUAN

Kemampuan interaksi anak dengan lingkungannya merupakan dimensi kecerdasan sosial psikologis. Pada minggu-minggu pertama kelahirannya, bayi sudah memiliki kemampuan untuk melihat dengan jelas pada jarak 10 inchi (25 cm). Pada usia itu, ia belum mampu mengenali wajah ibunya secara spesifik. Ia baru sampai pada tahap pengenalan garis rambut dan bentuk kepalanya. Mungkin, bayi menyukai wajah manusia karena wajah manusia lebih bersifat spesifik dan memberikan rangsangan pada penglihatannya. Hal tersebut membantunya dalam perkembangan fisik dan sosial bayi.
Oleh karena itu, anak sebaiknya terus dikenalkan dengan lingkungannya yang baru. Belajar beradaptasi merupakan kegiatan penting bagi si anak, apalagi jika kedua orang tuanya berpindah-pindah tempat tinggal. Kebutuhan bayi tentunya berbeda dengan kebutuhan seorang anak usia sekolah. Kebutuhan anak menjelang remaja juga berbeda dengan kebutuhan anak usia sekolah dan seterusnya. Cobalah untuk memahami perkembangan psikososial akan membuat anak merasa cemas, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, dan bisa juga menjadi pemalu. Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi sulit berpisah dengan orang tua dan sulit mengerjakan segala sesuatunya sendiri.
Terdapat hal-hal yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan psikososial anak yakni cara membesarkannya dalam lingkungan keluarga yang sehat. Orang tua harus memiliki pengetahuan mengenai kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak, serta perawatan dan pemeliharaan rumah sebagai tempat tinggal yang rapih, bersih, nyaman dan sehat. Orang tua mampu mencari nafkah dan bisa mengatur keuangan keluarga. Keluarga memiliki kegiatan sehari-hari yang teratur. Hubungan antar anggota keluarga, keluarga dengan tetangga, keluarga dengan masyarakat dalam keadaaan harmonis, bersahabatm gotong royong, saling menghormati dan sebagainya. Pada dasarnya, semua merupakan pendidikan kejiwaan terhadap si kecil.


B. PEMBAHASAN

1. Interaksi Dengan Keluarga

Sejak awal kehidupannya, bayi sudah dimanjakan dengan kasih sayang dari orang tua. Ia merasa nyaman dengan kehadiran orang tuanya. Ketika anak berusia satu tahun atau lebih, ia akan mulai menyadari rasa tidak aman saat berjauhan dengan orang tuanya. Ia akan menjadi gelisah dan takut ditinggalkan. Oleh karena itu, ketika orang tuanya meninggalkannya pergi mungkin ia akan rewel dan menangis. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk protes dari anak terhadap orang tuanya. Tentu saja sikap anak tersebut memiliki tujuan tertentu, misalnya memastikan agar orang tua tidak pergi meninggalkannya sendiri atau agar orang tua cepat kembali untuk menemaninya.
Sebenarnya, sikap itu bukanlah sikap yang manja. Itu dikarenakan anak menyadari adanya suatu perasaan takut bila berpisah dengan orangtuanya. Anak pun akan takut jika orang tuanya meninggalkannya dan ia tinggal sendirian. Hal tersebut akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun jika sikap seperti itu terus dibiasakan oleh orang tua hingga anak tumbuh dewasa, ada kemungkinan anak akan tumbuh menjadi anak yang manja.
Di sisi lain, sikap anak itu bisa digunakan untuk memprediksi perkembangannya. Ketika anak berlaku seperti di atas, bisa diperkirakan bahwa anak sudah mulai mengenal rasa cemas yang membuatnya tidak nyaman.

2. Perkembangan Pikiran Anak

Perkembangan teori pemikiran pada anak memiliki dua tahap yang harus dilalui. Teori pikiran sendiri merupakan teori yang mengaitkan antara tindakan yang dilakukan seseorang disertai akibatnya. Tahapan dalam teori pikiran tersebut adalah :

a. Tahap Pertama

Tahap pertama terjadi pada enam bulan pertama di kehidupan bayi. Pada enam bulan pertama tersebut, anak sudah bisa memahami bahwa seseorang melakukan suatu tindakan dengan disengaja. Dengan demikian, tingkah laku seseorang hanya dilihat dari segi tujuan dan aktivitasnya. Anak akan mengikuti pandangan mata orang tua. Setelah mempelajari kemampuan dasar tersebut, anak akan belajar untuk mengarahkan pandangan orang tua pada tujuan yang diinginkannya.

b. Tahap Kedua

Tahap kedua ini lebih rumit daripada tahap sebelumnya. Dibutuhkan lebih dari dua tahun untuk melakukan proses pada tahap ini. Tahap kedua sering disebut proses perkembangan teori pikiran, yaitu kemampuan anak untuk memahami pemikiran orang lain. Selain mengacu pada tujuan, aktivitas manusia juga mengandung maksud tertentu. Hal tersebut tidak mudah untuk dicerna oleh pola pikir bayi karena memang sangat rumit.

3. Munculnya Rasa Percaya Diri Anak

Ketika anak mencapai usia dua tahun, anak mungkin akan menjadi sangat rewel. Anak mulai menginginkan suatu kebebasan yang lebih daripada sebelumnya. Anak pun mulai bisa mengontrol gerak-gerik motorik ototnya yang semula hanya merupakan gerak refleks. Sebenarnya hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk menjadi lebih percaya diri. Rasa percaya diri anak juga dibangun dengan memperhatikan respons orang tuanya terhadap hal-hal yang baru. Hal tersebut disebut juga dengan social refenrencing.

4. Kebutuhan Akan Perhatian dan Empati

Ketika anak pura-pura sakit, orang tua pasti akan terkejut. Hal tersebut merupakan suatu perilaku tidak jujur yang tentunya tidak disukai. Tentu saja, siapapun pasti marah jika tahu sudah dibohongi. Namun, tujuan anak berperilaku demikian sebenarnya bukanlah untuk benar-benar berbohong, melainkan hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian dari orang tua. Hal itu disebabkan anak yang baru menginjak usia dua tahun belum dapat memahami konsep berbohong. Konsep itu akan diketahuinya nanti ketika anak telah menginjak usia tiga hingga empat tahun.


C. PENUTUP

Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain, interaksi dengan keluarga, perkembangan pikiran anak, munculnya rasa percaya diri anak, dan kebutuhan akan perhatian dan empati. Kesemunya itu akan membentuk pola interaksi sosial anak dengan orang lain. Maka sebagai orang tua, harus senantiasa memperhatikan hal-hal tersebut agar anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya secara baik.


D. DAFTAR PUSTAKA

Indarti, MT. A To Z The Golden Age. Merawat, Membesarkan dan Mencerdaskan Bayi Anda Sejak Dalam Masa Kandungan Hingga Usia 3 Tahun. 2007. Yogyakarta : ANDI.
(BK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar